Adabul Ikhtilaf : Etika Berbeda Pendapat

 Ahmad Gibson al-Bustomi

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah “. (Al Ahzab : 21)

Difference is one of existential  feature or characteristic oh creture, specially man kind. The characteritic wich substantially differ bitween the creature as an finite formed with God, The One and The Only. Read more…

air

apa sebetulnya yang aku tunggu di sini
kalau bukan karena setetes air?
dari gunung tertinggi bahkan jauh di angkasa
hingga di laut terdalam
ku temukan air di sana,
tapi aku harus pula mencarinya.

pelangi

titik hujan, menggantung di daun terakhir
pelangi mengambang di angkasa
sejumlah warna, satu cahaya
di manakah batas-batasnya?

Bila Harus Menulis

nulis.jpegMenulis tak lain dari berbicara pada diri sendiri, atau paling tidak seperti berbicara pada diri sendiri. Tapi kenyataannya betapa sulit itu dilakukan.

Bila kita mengeja diri membaca rasa, apakah kesulitan itu karena sang aku tidak pernah atau tidak biasa berbicara dengan/pada diri sendiri? Sedemikian asing dan tidak akrabkan sang aku dengan diri sendiri? sehingga berbica dan bertegur sapa pun jarang dilakukan.

Lalu, kalau kita berniat tuk berbicara dengan diri sendiri, apa yang harus kita ceritakan? Read more…

UN-Phobia: Represi Psikologis dalam Ujian Nasional

Ahmad Gibson al-Bustomi

http://iwanbinanto.wordpress.com

Konon, persoalan ini muncul terutama sejak EBTANAS digantikan oleh UAN/UN. Selama diberlakukan UN/UAN terjadi perubahan-perubahan peraturan yang semakin lama semakin memberatkan siswa dan menambah ketegangan dan sikap prustasi di kalangan siswa. Mulai dari batas nilai minimal kelulusan (passing-grade) dan rata-rata nilai kelulusan yang semakin tinggi, penambahan mata pelajaran yang diujikan dalam UN dan proses serta mekanisme perbaikan serta ujian persamaan yang harus ditempuh oleh siswa yang tidak lulus UN. Read more…

SPIRITULISME AGAMA: Penyelamat Masa Depan Manusia dan kemanusiaan

Drs. Ahmad Gibson Al-Bustomi, M.Ag

Will Durant, dalam bukunya The Lessons of History, seperti dikutip Murthada Mutahari dalam Perspektif al-Qur’an tentangManusia dan Agama[1], mengatakan bahwa agama memiliki seratus jiwa, yang tidak akan pernah mengalami kematian kalau pun telah dibunuh berurang kali. Bila kita menggunakan logika horizontal (bukan vertikal), kita balikkan logika Will Duran ini. Agama bukannya memliki ratusan jiwa, melainkan justru merupakan satu jiwa yang menempati ratusan bahkan ribuan jasad. Ketika ia dibunuh, jasadnyalah yang mati, sedangkan jiwanya akan muncul dalam jasad yang lain: jasad yang sama (identik) atau sama sekali berbeda. Agama-agama yang kini hadir dan masih hidup maupun yang telah mati dan akan segera hidup merupakan “reinkarnasi” dari jiwa agama yang pusatnya adalah sifat Maha Rahman-Rahim dalam Sabda (Wahyu, Firman)-Nya. Agama meruapakan perwujudan dari Rahman-Rahim Allah pada manusia dan seluruh makhluk-Nya. Substansi agama adalah jiwanya yang senantiasa hidup merasuki dada setiap manusia. Semakin ia disangkal, semakin ia menggeliat dan menampakkan vitalitas dan daya hidupnya. Jiwa agama seperti benang yang menghubungkan Tuhan dan manusia. Read more…

RAMADHAN: Menyibak Kabut Ilusi, Mengakrabi Rasa Takut

I

Rasa takut merupakan salah satu sifat umum yang dimiliki manusia, termasuk manusia beragama. Takut terhadap kenyataan kongkrit kehidupan manusia yang dihadapinya, yang tidak secara lengkap dipahaminya, rasa takut terhadap siksa Api Neraka, yang mungkin dideritanya di akhirat kelak. Kadang rasa takut itu muncul di luar kadar yang wajar, sehingga manusia berlaku kalap.
Rasa takut terhadap kenyataan kongkrit kehidupan semakin tumbuh subur ketika tingkat persaingan hidup semakin meningkat. Berbagai gejala kelainan psikologis dan penyimpangan sosial pun muncul ke permukaan. Kesemuanya itu terlahir dari rasa takut. Rasa takut pun telah melahirkan berkurang dan hilangnya kepercayaan pada orang lain, bahkan tidak jarang kehilangan kepercayaan kepada diri sendiri. KKN (kolusi, korupsi dan nepotisme), sebagi contoh, merupakan gejala yang paling nyata dari gejala ketidakpercayaan pada (kemampuan) diri sendiri. Kecurigaan terhadap orang lain dalam berbagai aspek kehidupan menjadi rumus jitu dalam berbagai aktivitas kehidupan masyarakat. Tanpa kecurigaan bersiaplah untuk ditipu orang lain. Read more…

SPIRITULITAS-AGAMA: Transformasi Tradisi Inividual ke Komunal

Drs. Ahmad Gibson Al-Bustomi, M.Ag

Will Durant, dalam bukunya The Lessons of History, seperti dikutip Murthada Mutahari dalam Perspektif al-Qur’an tentangManusia dan Agama[1], mengatakan bahwa agama memiliki seratus jiwa, yang tidak akan pernah mengalami kematian kalau pun telah dibunuh berurang kali. Bila kita menggunakan logika horizontal (bukan vertikal), kita balikkan logika Will Duran ini. Agama bukannya memliki ratusan jiwa, melainkan justru merupakan satu jiwa yang menempati ratusan bahkan ribuan jasad. Ketika ia dibunuh, jasadnyalah yang mati, sedangkan jiwanya akan muncul dalam jasad yang lain: jasad yang sama (identik) atau sama sekali berbeda. Agama-agama yang kini hadir dan masih hidup maupun yang telah mati dan akan segera hidup merupakan “reinkarnasi” dari jiwa agama yang pusatnya adalah sifat Maha Rahman-Rahim dalam Sabda (Wahyu, Firman)-Nya. Agama meruapakan perwujudan dari Rahman-Rahim Allah pada manusia dan seluruh makhluk-Nya. Substansi agama adalah jiwanya yang senantiasa hidup merasuki dada setiap manusia. Semakin ia disangkal, semakin ia menggeliat dan menampakkan vitalitas dan daya hidupnya. Jiwa agama seperti benang yang menghubungkan Tuhan dan manusia. Read more…

Solilokui

Tidak sedikit orang dengan keberanian yang tidak “lumrah” mampu menghadapi ancaman maut. Tidak pula sedikit orang yang secara sadar mampu memaksakan diri dan memberanikan diri untuk tampil di gelanggang persaingan hidup, resiko urusan belakangan. berhasil atau tidak, lain soal. Tapi hanya segelintir orang yang memiliki keberanian untuk sekedar bertatap muka dengan buku, apalagi bergaul dengannya. Menatap, menjamah dan bergaul intim dengannya. Dan, kalau pun dengan terpaksa ia harus melakukan itu, salah satunya (anda atau buku) akan menjadi korban. Korban pemerkosaan. Read more…

RAHMAT DARI PERBEDAAN: Test Case Kedewasaan Beragama

Pada tahun ini, terjadi perbedaan dalam penetapan 1 Syawal pada masyarakat Islam di Indoneisa. Akan tetapi, kejadian serupa bukan satu atau dua kali terjadi, yang disebabkan perbedaan penggunaan cara antara yang mendahulukan hisab dan rukyat. Sulit untuk menentukan mana yang (paling) benar, karena pada akhirnya tidak bisa dipersalahkan, sebab penilaian terhadap kedua cara tersebut pada akhirnya akan sampai pada kesimpulan yang berbeda juga. Yang paling penting dikedepankan adalah sikap saling menghargai, menghormati dan memaklumi setiap perberdaan. Umat Islam di Indonesia, dikenal sebagai umat Islam terbesar di Dunia, maka wajar kalau Indonesia menjadi “sarang” bagi lahirnya perbedaan. Hal demikian seharusnya menjadi permakluman semua orang, Umat Islam. Karena, bukankah cara apa pun yang ditempuh dengan konsekwensi keberbedaan kesimpulan, semuan orang atau kelompok agama pada awal dan ujungnya berpijak pada tujuan yang sama, yaitu ketakwaan kepada Allah demi mencapai keridlaan Allah.Dengan demikian bagi umat Islam, perbedaan pendapat bukan alasan yang kuat untuk terjadinya perpecahan dan saling mempersalahkan. Masyarakat Islam Indonesia kini telah banyak belajar berhadapan dengan dan mengalami perbedaan-perbedaan tersebut. Biasanya, perbedaan baru mencuat menjadi pertentangan dan perpecahan dalam masyarakat tatkala terdapat campur tangan politik antar golongan di dalamnya. Read more…